Pages

Subscribe:

About

Sabtu, 04 Februari 2012

video
Key Google Sketchup 8 PRO FREE

BAGAIMANA MENGHITUNG R.A.B

RENCANA ANGGARAN BIAYA
Pada dasarnya Rencana Anggaran dan Biaya adalah tidaklah rumit atau bisa dikatakan gampang-gampang susah, dikatakan gampang karena RAB hanyalah hasil perkalian antara Volume Pekerjaan (dari sekian banyak item pekerjaan) dengan Analisa Harga Satuan pekerjaan. Sedangkan dikatakan susah karena anda harus telaten dan teliti karena item pekerjaan sangat banyak. Sebenanya bagian tersusahnya adalah menghitung volume pekerjaan. Sedangkan Analisa Harga satuan adalah factor pengali Volume Pekerjaan, yang sudah distandartkan secara nasional, sehingga jika ketemu volume pekerjaanya tinggal mengalikan.

I. PEKERJAAN AWAL
  1. Pengukuran adalah sebelum memulai pekerjaan, untuk menentukan posisi dari bangunan dilakukan pengukuran batas-batas, volume pengukuran adalah dihitung dengan satuan lumpsum, misal diperkirakan dikerjakan 2 hari dengan 2 tukang, sehingga perhitungan sbb ,upah tukang Rp.45.000, maka biaya 50.000 x 2 orang x 2 hari = Rp. 180.000.
  2. Bowplank. Digunakan untuk membantu menentukan As atau letak titik dari bangunan, dengan cara membuat pagar menggunakan papan 2/15 dipaku pada kayu ukuran 5/7 sebagai tiang, dibuat dengan jarak 1 meter dari as bangunan dipasang keliling bangunan. Misal rumah ukuran 6 x 7 , maka volume bowplank adalah (6+1+1)+(7+1+1)=17 m. Harga dan kebutuhan material dapat dilihat pada Analisa pekerjaan.
II. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN
  1. Galian Adalah pekerjaan menggali yang berhubungan dengan pembuatan fondasi, dalam dan lebarnya fondasi ditentukan oleh type fondasi. Misal lebar bawah fondasi 70 cm, maka lebar dari galian adalah 70 cm ditambah kiri 10 cm kanan 10 cm menjadi 70 + 20 = 90 cm, sedangkan kedalaman galian juga ditentukan oleh keadaan tanah baik, tetapi kalau kondisi tanah biasa umumnya kedalaman galian 70 cm, maka volume galian adalah 0.9 m x 0.7 m x panjang fondasi = satuan m3, sedangkan untuk menentukan berapa jumlah tenaga atau upah dapat dilihat analisa pekerjaan galian.
  2. Urugan Adalah pekerjaan mengurug lantai bangunan, volume dihitung luas bangunan dikalikan tinggi urugan satuan m3, kebutuhan material urugan dan jumlah tenaga atau upah dapat dilihat pada analisa pekerjaan.
  3. Mengurug kembali adalah mengurug bekas galian Fondasi, volume biasanya dihitung 1/3 dari volume galian, contoh volume galian 60 m3 maka urugan kembali adalah 60 m3/3 = 20 m3.



III. PEKERJAAN FONDASI
  1. Lantai Kerja adalah suatu item pekerjaan yang lokasinya dibawah fondasi (lihat fondasi Rumah), lantai kerja dapat berupa urugan pasir dengan tebal 10 cm, pasangan batu kali kosong, atau beton dengan campuran 1:3:5 tebal 5 s/d 10 cm. cara perhitungan adalah luas dikalikan tebal dengan satuan m3, kebutuhan material dan upah lihat analisa pekerjaan.
  2. Pasangan Pondasi adalah fondasi batu kali (stal) untuk bangunan rumah lantai 1, cara menghitung volume hitung semua panjang fondasi kemudian dikalikan tinggi fondasi, dan dikalikan (lebar atas+lebar bawah dibagi 2), satuan m3. Contoh: panjang seluruh fondasi 50 meter, tinggi fondasi 0,7 meter, lebar atas fondasi 0.3 meter lebar bawah fondasi 0.7 meter, maka volumenya adalah 50 x 0,7 x ((0,3+0,7)/2) = 17,5 m3.

IV. PEKERJAAN BETON
  1. Sloof adalah struktur bangunan yang berada diatas fondasi untuk lebih jelas lihat sloof rumah lantai 1 dan 2.Cara menghitung volume sebagai berikut : untuk volume beton panjang total sloof x lebar x tinggi = satuan m3. Untuk perhitungan jumlah besi beton, pertama yang dicari adalah jumlah begel, dengan cara panjang total sloof dibagi jarak begel ditambah 1 = jumlah begel, jumlah begel dikalikan panjang satu begel = panjang total besi beton yang dibutuhkan. Misal sloof 15/20, begel d 8 – 15, panjang total 25 meter, jumlah begel = (25/0.15)+1=167,6 bh = 168 bh, sedangkan panjang satu begel = ((15 -5)x 2)+((20-5) x 2)= 50 cm, maka total besi beton untuk begel adalah 0,5 x 168 = 84 meter, satu batang besi beton panjang standar adalah 12 m, 84/12= 7 batang. Untuk menghitung besi beton tulangan pokok yaitu dengan cara jumlah tulangan pokok dikalikan panjang total. Sedangkan untuk perhitungan RAB besi beton tidak dihitung,yang ditampilkan adalah volume beton.
  2. Kolom Cara menghitung Volume adalah tentukan atau hitung jumlah kolom kemudian dikalikan tinggi kolom,sehingga mendapat total panjang kolom x lebar x tinggi = volume kolom satuan m3.
  3. Ring balk. Cara menghitung volume sama dengan perhitungan sloof dan kolom

V. PEKERJAAN DINDING
  1. Pasangan Bata. Dinding pasangan bata ada 2 cara menghitung yaitu dengan cara perhitungan luas dan dengan cara perhitungan isi, untuk perhitungan isi jarang sekali digunakan, akan tetapi bila suatu saat dibutuhkan dengan cara perhitungan isi, caranya adalah luas x tebal, untuk tebal tergantung jenis pasangan bata, pasangan 1 bata atau ½ bata ,untuk ukuran 1 bata yaitu 30 cm sedangkan ukuran ½ bata 15 cm.Cara menghitung luas pasangan bata adalah sebagai berikut, hitung keliling dari dinding, kalikan dengan tinggi dinding, dan dikurang luas dari daun jendela,daun pintu,boven, satuan m2.
  2. Plesteran Volume plesteran adalah 2 x dari volume pasangan bata.
  3. Acian Sama dengan cara menghitung volume plesteran tetapi dikurangi, daerah yang tidak di aci seperti dinding keramik dll.
  4. Sponengan atau tali air Sponengan atau tali air adalah batas antara kusen dan plesteran, bila lebar kusen kurang dari lebar dinding (15 cm) maka batas antara kusen dan plesteran disebut sponengan, sedangakan bila lebar kusen sama dengan lebar dinding maka batas antara kusen dan plesteran disebut tali air.

VI. PEKERJAAN KUSEN DAN PINTU, JENDELA
  1. Pembuatan Kusen. Cara perhitungan kusen pada RAB ada 2 macan yaitu dengan satuan jadi, atau m3, untuk satuan m3 yaitu hitung semua panjang dari bahan pembuat kusen kemudian dikalikan dengan tebal dan lebar dari kayu, satuan m3. Kebutuhan material dan upah dapat dilihat pada analisa pekerjaan.
  2. Daun Pintu. Daun pintu ada beberapa macam, missal daun pintu panil atau doble plywood, dalam perhitungan volume untuk RAB biasanya di hitung perunit.
  3. Pasang Kusen Pintu dan Jendela. Volume pemasangan bermacam-macam, antara lain dengan cara panjang keliling kusen, per ubang, atau per unit.
  4. Pasang Daun Pintu dan Jendela Volume pemasangan dihitung perunit, diluar pemasangan kunci tanam, hak angin, slot.

VII. PEKERJAAN RANGKA ATAP.
  1. Pembuatan Kuda-Kuda Volume dihitung dengan satuan m3, yaitu panjang total bahan dikalikan dimensi kayu yang dipakai. Contoh, panjang total bahan yang digunakan untuk kuda-kuda adalah 25 meter kayu yang digunakan 8/12 maka volume adalah 25 x 0.08 x 0.12 = 0.24 m3.untuk harga dapat dilihat analisa pekerjaan.
  2. Pembuatan Gording. Yang dimaksud dengan pembuatan gording adalah pembuatan sambungan antara gording, satuan adalah m3, cara mencari volume sama dengan cara mencari volume pada perhitungan kuda-kuda.
  3. Pembuatan Jurai. Sama dengan pembuatan gording,
  4. Pembuatan Balok Nok. Sama dengan pembuatan gording, dan Jurai. Untuk ketiga item pekerjaan tersebut dimensi kayu biasanya sama hanya letak saja yang membedakan nama item pekerjaan.
  5. Pasang Kuda-kuda. Yang dimaksud pasang kuda-kuda biasanya disebut erextion kuda-kuda, adalah pemasangan kuda-kuda dilokasi tempatnya kuda-kuda. Tidak membutuhkan material tambahan karna kuda-kuda dipasang setelah dibuat. Biaya biasanya diambil 50 % dari biaya pembuatan kuda-kuda. Begitu juga untuk pemasangan jurai,gording,balok nok. Satuan volumenya adalah m3.
  6. Pasang Papan Suri. Yang dimaksud dengan papan suri adalah, papan yang letaknya diatas balok nok, yang berfungsi untuk menahan kerpus, ukuran yg digunakan biasanya 2/20 dapat juga lebih kecil atau lebih besar sesuai kebutuhan dilapangan. Satuan volumenya adalah m’.
  7. Pasang Usuk. Usuk biasanya menggunakan kayu ukuran 4/6 atau 5/7, yg sering digunakan adalah kayu ukuran 5/7, untuk atap yg menggunkan asbes atau seng tidak memakai usuk, cukup dengan gording. Perhitungan usuk yaitu luas dengan satuan m2. kebutuhan matererial dan upah lihat analisa pekerjaan.
  8. Pasang Alumunium poil. Pemasangan alumunium poil dimaksudkan untuk mengurangi panas dan mencegah tampias saat terjadi hujan yang disertai angin, bahan yang digunakan tidak mutlak alumunium poil, dapat diganti dengan karpet atau seng plat. letak alumunium poil adalah diantara usuk dan reng. Satuannya adalah m2.
  9. Pasang Reng.Reng ukuran yang digunakan ada dua macam yaitu 2/3 atau ¾,tergantung jenis genteng yang dipakai, untuk genteng beton biasanya menggunakan ukuran ¾ , perhitungan reng adalah sama dengan menghitung usuk yaitu luas dengan satuan m2.(luas reng sama dengan luas dari usuk).
  10. Pasang GentengGenteng ada beberapa jenis, akan tetapi yang umum adalah genteng beton dan genteng keramik. Perhitungan volume adalah luas dengan satuan m2. biasanya sama dengan luas reng maupun usuk.
  11. Pasang talangTalang ada beberapa jenis bahan yang digunakan, talang seng, talang PVC, talang beton, untuk setiap jenis bahan cara perhitungan volume berbeda-beda, untuk talang yang terbuat dari seng volume nya adalah luas dengan satuan m2, talang yang terbuat dari PVC volumenya adalah panjang dengan satuan m’, sedangkan untuk talang beton dapat dihitung dengan m3 ataupun m2.
  12. List plank ada beberapa jenis bahan yang digunakan, yaitu bahan dari kayu, beton, pvc, fiber dll, tetapi saat ini list plank yang sering digunakan adalah terbuat dari kayu dan beton, perhitungan volume ada yang menggunakan m’,m2,m3. perhitungan volume tidak mengikat.

VIII. PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI.
  1. Rangka Plafond ada beberapa jenis bahan yang digunakan, yaitu rangka kayu 4/6, rangka besi (bermacam-macam). Untuk perhitungan volume kalau menggunkan kayu biasanya dihitung luas, sedangkan untuk besi dihitung dengan berat (kg).
  2. Pasang Plafon. Plafon bermacam-macam dari jenis bahan yang digunakan, seperti, bahan kayu, eternit, asbes plat, plywood, gibsum dll, untuk perhitungan volume adalah luas dengan satuan m2.
  3. Pasang Kunci tanam, grendel, hak angin. Perhitungan menggunkan satuan unit, atau buah.
  4. Pasang Kaca. Pemasangan kaca yaitu dengan perhitungan luas satuan m2.
  5. List plafond Yang dimaksud dengan list plafon adalah list yang berada dipinggir pertemuan antara plafond dengan dinding, tujuan pemasangan list, agar terlihat rapi. Satuan volume adalah m’.

IX. PEKERJAAN LANTAI DAN KERAMIK.
  1. Beton Lantai 1:3:5 Yang dimaksud dengan beton lantai, biasanya disebut floor, atau plesteran lantai, tebal beton lantai untuk rumah tinggal mulai dari 5 cm sampai dengan 10 cm. sebelum lantai diplester sebaiknya diberi urugan pasir setebal 10 cm. Untuk perhitungan volume lantai beton m3, tetapi kadang-kadang ada yang membuat m2.
  2. Pasang keramik lantai utama dan wc. Pemasangan keramik lantai volume yang digunakan adalah luas dg satuan m2.
  3. Pasang Keramik Dinding. Pemasangan keramik dinding volume yang digunakan adalah luas dg satuan m2.




X. PEKERJAAN SANITASI
  1. Pasang Saluran air bersih pvc ¾”. Perhitungan volume adalah panjang dengan satuan m’.
  2. Pasang Saluran Air kotor pvc 4” Perhitungan volume adalah panjang dengan satuan m’.
  3. Pasang Closet, kran Perhitungan volume adalah buah atau unit.
  4. Pembuatan Septick tank atau beerput. Septick tank atau beerput adalah suatu tempat untuk menampung kotoran manusia, perbedaan septick tank dan beerput adalah dari bentuk mdan bahan yang digunakan akan tetapi fungsinya sama. Bahan Septick tank yang digunakan adalah pasangan bata, dengan ukuran persegi panjang, sedangkan kalau beerput bahan yang digunakan buis beton diameter 80 cm s/d 90 cm. biasanya perhitungan volume adalah unit (lansung jadi).
  5. Saluran Peresapan atau Sumur Peresapan. Saluran peresapan atau sumur peresapan adalah suatu bangunan yang berfungsi sebagai peresapan air dari buangan septick tank. Volume perhitungan adalah unit.

XI. PEKERJAAN PHINISING.
Pekerjaan Cat tembok, plafon, kusen, daun pintu dan jendela. Perhitungan Volume nya adalah luas dengan satuan m2.

XII. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK.
Pekerjaan instalasi listrik volume pekerjaan menggunakan titik, sedangkan harga sesuai dengan ketentuan PLN.

XIII. PEMEBERSIHAN AKHIR.
Yang dimaksud dengan pekerjaan pembersihan akhir, adalah pekerjaan pembersihan sisa sisa material atau kotoran-kotoran aikibat dari pekerjaan, seperti pembersihan kamar mandi, lantai, kusen dari debu-debu, karna volumenya tidak bisa dihitung maka menggunakan satuan LS atau lump sum. (dari berbagai sumber)

Pengertian Pondasi


PENGERTIAN PONDASI
Pengertian umum untuk Pondasi Rumah adalah Struktur bagian bawah bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah, atau bagian bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul beban bagian bangunan lainnya di atasnya.
Pondasi harus diperhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap beratnya sendiri, beban - beban bangunan (beban isi bangunan), gaya-gaya luar seperti: tekanan angin,gempa bumi, dan lain-lain. Disamping itu, tidak boleh terjadi penurunan level melebihi batas yang diijinkan. Agar kegagalan fungsi pondasi dapat dihindari, maka pondasi bangunan harus diletakkan pada lapisan tanah yang cukup keras, padat, dan kuat mendukung beban bangunan tanpa menimbulkan penurunan yang berlebihan. Pondasi merupakan bagian struktur dari bangunan yang sangat penting, karena fungsinya adalah menopang bangunan diatasnya, maka proses pembangunannya harus memenuhi persyaratan utama sebagai berikut:
  • Cukup kuat menahan muatan geser akibat muatan tegak ke bawah.
  • Dapat menyesuaikan pergerakan tanah yang tidak stabil (tanah gerak)
  • Tahan terhadap pengaruh perubahan cuaca
  • Tahan terhadap pengaruh bahan kimia
MACAM PONDASI
Pondasi dangkal ( shallow foundation ) adalah Pondasi yang digunakan bila letak tanah kerasnya berada dekat dengan permukaan tanah, yang kedalaman pondasi kurang atau sama dengan lebar pondasi. Pondasi dangkal terdiri dari : Pondasi telapak, cakar ayam, sarang laba-laba, gasing, grid, dan lain-lain.
Pondasi dalam ( deep foundation ) adalah Pondasi yang digunakan bila letak tanah kerasnya berada jauh dengan permukaan tanah, yang kedalaman pondasi lebih dalam dari ukuran lebar pondasi. Pondasi dalam terdiri dari : Pondasi sumuran, tiang, kaison.
Suatu jenis pondasi mempunyai karakteristik penggunaan tertentu. oleh karena itu, dalam mendisain pondasi perlu dibuat alternatif yang kemudian dipilih alternatif yang terbaik berdasarkan kriteria secara teknis,kemudahan pelaksanaan, ekonomis, dan dampak lingkungan.
Agar dapat hasil yang baik maka perlu mempunyai pengetahuan tentang permasalahan pondasi.
RENOVASI PONDASI
Tahukah anda bahwa terkadang anggaran renovasi rumah adalah lebih mahal dari membangun rumah dari awal. Logika sederhananya adalah adanya tambahan biaya berupa pekerjaan bongkaran dan perbaikan didalamnya. Misalnya, bila kita ingin menambah tingkat rumah kita, maka pekerjaan bongkaran lantai tidak bisa dihindari, karena kita harus menggali untuk tempat pondasi baru pendukung struktur lantai 2.
Jika pondasi pada bangunan lama tidak diketahui, pada saat renovasi konstruksi, maka kita harus menggali dan melihat apakah pondasinya memungkinkan untuk 2 lantai. Jika pondasi lama hanya untuk struktur 1 lantai maka dapat dilakukan perkuatan-perkuatan setempat atau di lapangan sering disebut pondasi suntik. Ini menyebabkan bangunan lama harus dibongkar pada titik-titik tertentu sebagai tempat pondasi baru pendukung struktur bahkan sebagian area lantai dan dinding juga perlu akan perlu dibongkar. Bisa dibayangkan, jika di ruangan 3×3 terdapat galian untuk 4 titik pondasi di setiap pojok ruangan, maka hampir seluruh lantai dibongkar.
Pondasi yang paling umum dipakai adalah pondasi strous yang dihubungkan dengan poor , yang mana letak poor persis dibawah kolom yang menyokong lantai 2. Selain itu juga bisa memakai Pondasi Borepile. Teknik ini banyak digunakan pada hampir semua jenis tanah dan bangunan. Teknik ini mempunyai daya dukung beban tidak hanya pada ujung penampang borepile,
tetapi juga pada semua sisi-sisi luarnya (gaya gesek). Proses pengerjaannya sebagai berikut:
  1. Titik pondasi di bor terlebih dahulu, menggunakan mesin boredpile, sampai kedalaman tanah keras. Diameter lubang, sesuai perhitungan bobot beban bangunan. Untuk Pondasi strauss, cukup memakai bor tangan, mengingat mesin bor cukup besar dan perlu manuver untuk memutarnya
  2. Besi beton yang sudah dirangkai, dimasukkan kedalam lubang bor.
  3. Pemasangan Pipa tremi (penyalur semen beton).
  4. Pengecoran / Penuangan semen beton kedalam lubang bor melalui pipa tremi, mulai dari dasar lubang menuju keatas. Bersamaan dengan penuangan beton cor, pipa tremi ikut juga dicabut perlahan mengikuti volume beton, sampai lubang bor penuh terisi padat.
Dengan teknik Pondasi Borepile atau pondasi strauss ini, pengeboran dan pengecoran langsung kedalam lubang. Sehingga memungkinkan seluruh tiang menyatu dengan tanah, akhirnya didapat kekuatan daya dukung menyeluruh.
MATERIAL
Disamping teknik strukturnya yang harus benar, mutu material pembuat pondasi dan beton juga harus berkwalitas. Karakteristik dan sifat beton sangat tergantung dari design campuran dan kwalitas bahan-bahan penyusunnya, setiap tahapan dalam proses produksi pondasi dan beton dilapangan memegang peranan penting dalam menghasilkan pondasi beton yang berkwalitas antara lain :
Pasir dan koral : Kesalahan penempatan dan penyimpanan material, dapat menyebabkan menurunnya kwalitas pondasi. Penempatan pasir dan koral harus sedemikian rupa jangan sampai tercampur oleh bahan-bahan lain. Selain itu penggunaan landasan untuk stok material sangat dianjurkan agar dapat mencegah terbawanya tanah saat pengambilan barang.
Semen : Dijaga agar tidak lembab, disimpan didalam ruangan atau gudang dan dibawahnya di beri landasan agar semen tidak langsung kena uap lantai, karena apabila uap mengenai semen, mengakibatkan kwalitas semen menurun dan sebagian akan mengeras, berubah menjadi butiran butiran kasar.
Persiapan dan Proses Pencampuran : Untuk menghasilkan beton dengan kwalitas yang seragam, bahan- bahan penyusun pondasi harus disiapkan dan ditakar dengan teliti karena akan mempengaruhi homogenitas campuran, pencampuran dapat dilakukan dengan cara manual atau mekanis, pencampuran manual yaitu menggunakan tenaga manusia dengan peralatan cangkul dan skop, disarankan untuk pekerjaan volume pondasi yang besar sebaiknya dilakukan dengan cara mekanis. Pencampuran mekanis yaitu dengan cara mixer (mollen), utnuk mendapatkan campuran yang baik diperlukan minimal 50 kali putaran mixer atau tidak kurang dari 1 menit untuk volume pengecoran 1 m3.
Kekentalan adukan : Harus disesuaikan dengan cara transportasi, cara pemadatan, jenis konstruksi yang bersangkutan dan kerapatan dari tulangan. Kekentalan tersebut bergantung pada berbagai hal. Jumlah dan jenis semen, nilai factor air semen, jenis dan susunan butir dari agregat serta bahan pembantu lain.
Pemadatan : Dilakukan sesaat setelah beton dituangkan, dengan tujuan untuk meminimalkan jumlah rongga yang terbentuk didalam beton sehingga beton mempunyai kekuatan yang tinggi. Dan menambah kekedapan air.
Perawatan beton : Sifat-sifat beton seperti kekuatan dan daya tahan akan bertambah dengan perkembangan umur beton, perkembangan ini akan sangat cepat pada umur awal dan berlangsung terus namun dalam kecepatan yang makin melambat. Hilangnya air yang terlalu cepat akan mengakibatkan lambatnya perkembangan mutu beton, dan juga volume beton menyusut mengakibatkan timbulnya tegangan tarik pada permukaan yang mongering, jika tegangan tarik ini terjadi sebelum beton mencapai kekuatan yang memadai maka akan timbul retak pada beton, disarankan sebelum beton mencapai umur dari setelah beton agak mongering sebaiknya di tutupi dengan karung/zak yang basah,digenangi air selama 2 minggu. Beton akan mencapai kekuatan maksimal yaitu pada umur 21 hari. Bila dikehendaki umur beton lebih cepat dapat menggunakan bahan campuran yang dikususkan untuk mempercepat umur beton

Bandara Sultan Iskandar Muda
1024 x 768 - 162k - jpg
skyscrapercity.com






Bandara Banda Aceh
Bandara Sultan Iskandar Muda adalah sebuah bandar udara untuk melayani Kota Banda Aceh dan sekitarnya, yang terletak di wilayah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Bandara ini dikelola oleh PT Angkasa Pura II, untuk melayani rute domestik dan internasional, Saat ini sudah ada satu penerbangan internasional, yaitu Air Asia ke Kuala Lumpur.
Maskapai
1.      Garuda Indonesia (Jakarta)
2.      Jatayu Airlines (Medan) [mengakhiri operasinya]
3.      Lion Air (Jakarta)
4.      Sriwijaya Air (Jakarta)
5.      Pelangi Air (Meulaboh)
6.      Air Asia (Kuala Lumpur)


Referensi
   1.   Kompas Cyber, 6 Agustus 2005. Bandara Sultan Iskandar Muda Belum Layani Penerbangan Luar Negeri Bandar udara internasional sultan iskandar muda akan segera diperluas dan menempati gedung baru yang jauh lebih besar dari bandara polonia medan.
Pranala luar
2.      Keterangan tentang Bandara Sultan Iskandar Muda di situs Dirjen Perhubungan Udara l • b • s Bandar Udara di Indonesia

Sejarah Bandara
Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh terletak pada 05 31’ 01” LU dan 095 25’ 12” BT, dengan ketinggian 19, 6 m dari permukaan laut. Bandar Udara Sultan Iskandar Muda dibangun oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1943. Saat itu Bandar Udara memeliki panjang1400 meter dan lebar 30 meter yang berbentuk huruf T dari ujung Selatan membujur dari Timur ke Barat.
Pada tahun 1953 Bandar Udara Sultan Iskandar Muda (saat itu masih bernama Bandar Udara Blang Bintang) dibuka kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk keperluan pendaratan pesawat. Landasan yang digunakan hanya landasan yang membujur dariSelatan ke  Utara yang panjangnya 1400 meter. Saat itu pesawat yang pertama mendarat adalah pesawat Dakota, pada tahun ini , fasilitas sisi darat hanya terdapat bangunan kayu yang memakai atap rumbia. Beberapa tahun kemudian ditambah dengan pendaratan pesawat jenis Convair 240. Tahun 1968, Bandar Udara mengalami perkembangan dengan perpanjangan landasan menjadi 1850 meter dengan lebar 45 meter, sertaAppron 90 x 120 meter, sehingga telah mampu didarati oleh pesawat-pesawat berukuran besar seperi F. 28.
Tahun 1993/1994 Bandar Udara Sultan Iskandar Muda kembali mengalami perkembangan berkaitan dengan akan diselenggarakan MTQ Nasional dengan perpanjangan landasan menjadi 2250 x 45 meter, sehingga dapat didarati jenis pesawat DC-9/B-737 serta didukungdengan pemasangan sebuah Radar yang terletak di Gunung Linteung yang berjarak lebih kurang 14 Km dari Bandar Udara.
Pada tanggal 9 April 1994 Bandar Udara Sultan Iskandar Muda bergabung dengan PT (Persero) Angkasa Pura II, berdasarkan Surat Menteri Keuangan No. 533/MK.016/1994 dan Surat Menteri Perhubungan No. A. 278/AU.002/SKJ/1994

Usulan Perubahan Nama Bandara
 Seiring dengan waktu, Bandara ini terus dilakukan peningkatan serta pengembangan, dan yang terakhir pada tahun 2000, untuk pendaratan pesawat setingkat Air Bus A330, sebagai Bandara Embarkasi Haji.
Tahun 2003 Pemerintah Daerah (Pemda) berkeinginan untuk meningkatkan Pembangunan Bandara Sultan Iskandar Muda untuk pendaratan Pesawat Setingkat Boeing 747, yang sesuai dengan Master Plan yang telah disahkan oleh Menteri Perhubungan. Master Plan ini dijadikan  "Rencana Induk" untuk Pembangunan Bandar Udara Sultan Iskandar Muda sampai saat ini. Dan dimulai dengan pembebasan tanah secara bertahap oleh Pemda sesuai kebutuhan Master Plan.
Pada Tahun 2005, PT.(Persero) Angkasa Pura II, telah melaksanakan pembangungan Terminal Penumpang Tahap I (satu). Kemudian pasca bencana alam Tsunami, dalam rangka penanganan bencana alam di Provinsi NAD dan Nias, telah dibentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias untuk penanganan Rehab- Rekon. Salah satu Program BRR NAD-Nias adalah peningkatan dan pengembangan Bandara Sultan Iskandar Muda menjadi Bandara Internasional yang telah dimulai sejak tahun 2006 sampai saat ini.

Penunjang Bandara
Fasilitas Penunjang Bandara Rendani Memprihatinkan  Ketua Intelektual Arfak, Lasarus Indow SP MM, Rabu (22/7), mengatakan kondisi fasilitas penunjang di bandara udara Rendani sangat memprihatinkan. Ia mengatakan, fasilitas yang ada di bandara saat ini tidak berfungsi secara maksimal, seperti mesin untuk mengecek barang bawaan serta pengunjung atau penumpang yang masuk kedalam bandara. Oleh karena itu diharapkan kepada pemerintah, khususnya instansi teknis agar memperhatikan kondisi bandara Rendani terutama peralatan vital bandara, untuk menjaga keamanan bandara serta penerbangan.

Jumat, 03 Februari 2012

Kontur





BAB I
PEMETAAN

1.      PENDAHULUAN
Definisi : Peta adalah sarana guna memperoleh infomasi ilmiah mengenai keadaan permukaan bumi dengan cara menggambar berbagai tanda dan keterangan sehingga mudah dibaca dan di mengerti.
Dalam Ilmu Ukur Tanah, kita mengenal peta tranches yaitu peta yang dilengkapi dengan garis kontur (garis tinggi) yang menunjukkan ketinggian suatu tempat, situasi dan sebagainya. Peta tersebut biasanya digunakan untuk pembangunan. Jadi jenis peta ada bermacam-macam tergantung dari penggunaannya.

2.      MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari pengukuran yang akan kita lakukan adalah untuk mengumpulkan data yang diberikan untuk membuat suatu gambaran secara planimetris dan topografis.
Yang dimaksud planimetris adalah kedudukan bangunan-bangunan yang dibuat oleh manusia, sedangkan topografis adalah konfigurasi dari keadaan tanah.
Peta yang menunjukkan gambaran planimetris dan topografis disebut topografis map. Dimana dalam peta tersebut ditunjukkan sekaligus jarak-jarak horizontal dan vertical dari suatu wilayah.
Dalam mempersiapkan suatu pembuatan peta topografi diperlukan pengukuran dilapangan termasuk penentuan titik-titik tetap, pekerjaan hitungan dan penggambaran.

3.      TEORI
a.      Skala
Topografi map adalah representasi dari suatu daerah atau bagian dari bumi. Jarak dari dua titik yang diperlihatkan di peta harus diketahui dengan suatu perbandingan tertentu dengan keadaan tertentu, perbandingan itu disebut skala. Ada beberapa macam skala dari peta misalnya 1 : 1000 artinya 1 cm dipeta sama dengan 1000 cm dilapangan. Pemilihan skala peta tergantung daripada maksud dan penggunaan dari peta, hal ini karena menyangkut masalah ketelitian yang didapat dari hasil pengukuran. Oleh karena itu skala peta harus ditentukan terlebih dahulu sebelum penggambaran dimulai.
b.      Kontur
Garis kontur adalah garis yang menunjukkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama. Ketinggian antara dua kontur disebut interval kontur dan  jarak horizontal antara kedua kontur tersebut kita bisa menentukan kecuraman suatu lereng. Sedangkan ketinggian (elevasi) dari sembarang titik yang terletak antara kedua kontur bisa kita tentukan dengan cara interpolasi. Pada peta, garis kontur merupakan garis yang tertutup atau garis yang tidak boleh berhenti kecuali pada tepi peta. Umumnya pada setiap lima garis kontur digambarkan dengan garis yang lebih tebal dari yang lain (lihat contoh Gb. 2). Pada garis-garis kontur yang teratur dan dekat jaraknya maka garis kontur diberi angka ketinggian hanya terbatas pada kontur yang berjauhan jaraknya (lihat contoh Gb. 1).






Gb. 1. Garis kontur diberi angka ketinggian hanya terbatas pada kontur yang berjauhan araknya.





Gb. 2. Setiap lima garis kontur digambarkan dengan garis yang lebih tebal






Gb. 3. Kontur yang teratur dan dekat jaraknya




Gb. 4. Kontur yang teratur dan jaraknya agak berjauhan

Angka pada garis kontur tersebut menunjukkan ketinggian dari kontur. Dari kontur kita dapat mengetahui bentuk konfigurasi permukaan tanah, seperti pada gambar 3 menunjukkan adanya suatu aliran sungai, terlihat dari gambar kontur yang rapat.



c.       Poligon
Maksud dilakukan pengukuran polygon adalah untuk menentukan arah dan kedudukan titik-titik yang diukur.
Perhitungan polygon tertutup terbagi dalam:
1.      Perhitungan sudut dan jarak
2.      Perhitungan azimuth
3.      Perhitungan koordinat



ψ       =   Azimut = Sudut yang dibentuk dari utara yang
              bit dari arah kanan

α1      :    Sudut luar

α2      :    Sudut dalam
 
 


Gb. 5 Poligon = Tali Meter
1.      Perhitungan Sudut
Sudut yang diperhitungkan meliputi sebagai berikut:
a.       Sudut yang diperoleh dalam pembacaan yang lebih lanjut diterangkan dalam bab pengukuran theodolit.
b.      Perhitungan sudut polygon
c.       Data yang diperoleh dari lapangan pada polygon tertutup apabila menggunakan sudut dalam harus memenuhi syarat (n-2) x 180o, bila menggunakan sudut luar adalah (n+2) x 180o dimana               n = jumlah titik pengukuran. Dalam polygon terbuka harus memenuhi syarat:
Y akhir – Y awal = n x 180o - ∑α. K
∑α. K = jumlah sudut dikalikan koreksi
Kesalahan perhitungan sudut akan berpengaruh pada kesalahan penutup polygon atau dengan kata lain polygon tidak akan menutup. Kesalahan tersebut tergantung pada jarak, kedudukan titik dan skala peta. Dalam praktikum ini kesalahan tersebut diabaikan.
2.      Perhitungan Azimuth
Perhitungan azmuth dapat dihitung bila sudut-sudut yang diperhitungkan telah memenuhi syarat dan azmuth diketahui pada waktu pengukuran. Pada polygon tertutup perhitungan berdasarkan azmuth awal (y awal) sedangkan pada polygon terbuka berdasarkan azimuth awal dan akhir. Sudut yang terpakai dalam perhitungan tiap-tiap titik polygon pada praktikum ini seyogyanya dipakai sudut luar.
3.      Perhitungan Koordinat
Syarat yang harus dipenuhi untuk menghitung koordinat adalah:
a.       Sudut telah dikoreksi untuk tiap titik.
b.      Jarak masing-masing titik pengukuran diketahui.
c.       Koordinat titik awal A (XA, YA) atau akhir Z (XZ, YZ) diketahui.
Selanjutnya dengan diketahui koordinat awal, maka dapat dihitung koordinat titik yang diukur dengan menggunakan rumus.
Absis (X), Xn= Xawal + D Sin y
Ordinat (Y), Yn = Yawal + D Cos y
Dimana, Xn atau Yn                 =   absis atau ordinat yang akan dicari
Xawal atau Yawal      =   absis atau ordinat awal yang telah  diketahui
D                                 =   jarak antar titik




Contoh perhitungan koordinat polygon tertutup adalah sebagai berikut:
No.
TItik
Azimuth
(y)
Jarak
(D)
DSiny (DX)
DCosy (DY)
Koreksi X (ΔX)
Koreksi
Y(ΔY)
Koordinat
No. Titik
X
Y
BM
0
D
DSiny
DCosy
ΔX
ΔY
Xp
Yp
BM
Cp1
0
D1
D1Siny
D1Cosy
ΔX1
ΔY1
Xp±DX
±ΔX1
Yp±DY
±ΔY1
CP1
Cp2
0
D2
D2Siny
D2Cosy
ΔX2
ΔY2
X1±DX
±ΔX2
Y1±DY
±ΔY2
CP2
(n-1)
0
Dn
DnSiny
DnCosy
ΔXn-1
ΔYn-1
Xn-1
Yn-1
CP
(n-1)
n=BM
0



ΔXn
ΔYn
Xn-1±DX±
ΔXn
Yn-1±DY±
DXn
N=BM

Syarat yang harus dipenuhi adalah:
∑D Sin y = 0 dan ∑D Cos y = 0
Oleh karena itu titik awal dan titik akhirnya sama, apabila
1nD Sin y ¹ 0 dan ∑1nD Cos y ¹ 0 kesalahan yaitu : sebesar X dan Y sehingga mempengaruhi kedudukan titik dan mengakibatkan polygon tidak tertutup. Kesalahan ini akibat pengaruh pengukuran sudut, azimuth. Besarnya kesalahan tersebut adalah sebesar:





Dimana,   ΔX1 dan ΔY1     =   Koreksi atau besarnya kesalahan absis atau ordinat
                ∑1n D                 =   Jumlah jarak polygon
                ∑1n D Sin y       =   Jumlah jarak dikali Sin sudut azimuth (untuk absis)
                ∑1n D Cos y      =   Jumlah jarak dikali Cos sudut azimuth (untuk ordinat)
Akibat kesalahan tersebut maka perhitungan koordinat juga dikoreksi, misalnya diketahui koordinat awalnya dititik BM adalah Xp dan Yp dan titik akhir n adalah juga titik BM perhitungan menjadi sebagai berikut:
XBM                 = Xp
X1                    = Xp ± D Sin y ± X1
X2                    = X1 ± D Sin y ± X2
X(n-1)                = X(n-2) ± D(n-1) Sin y ± X(n-1)
Xn                   = X(n-1) ± D(n) Sin y ± X(n)
Oleh karena Xn = XBM = Xp maka harga X tersebut harus sama dengan Xp. Demikian pula untuk perhitungan ordinat Yp identik seperti diatas, jadi harga-harga X1, X2, X(n-1), Xn dan Y1, Y2, Y(n-1), Yn yang didapat dari perhitungan adalah saling berkaitan, hingga akhirnya Xn = Xp dan         Yn = Yp. Toleransi atau limitasi kesalahan dalam praktikum ini (Sx atau Sy) tidak melebihi 1m. Dalam pengukuran yang sesungguhnya toleransi kesalahan ini berfariasi tergantung dari pengadaan peta, sebagai contoh adalah sebagai berikut:
Panjang rata-rata
Kesalahan penutup sudut
imbangan kesalahan penutup (skala peta)
700 m – 1000 m
8” x n
1 : 20000
400 m – 700 m
10” x n
1 : 10000
200 m – 400 m
15” x n
1 : 5000
100 m – 200 m
20” x n
1 : 3000

d.      Waterpass (Sipat Datar)
Perhitungan waterpass dimaksudkan untuk mengetahui ketinggian suatu titik diatas permukaan tanah. Ketinggian disini adalah perbedaan vertical antara dua titik atau jarak dari bidang referensi yang telah ditetapkan kesuatu titik tertentu sepanjang garis vertical.




1.      Metode dan jenis waterpass




Penentuan beda tinggi antara dua titik

Gb. 6. Waterpass dengan instrument ditengah antara 2 titik

Selisih tinggi antara titik A dan titik B adalah sebesar H. Arah bidikan ke titik A disebut pembacaan baak belakang dan titik B disebut pembacaan baak muka. Untuk mengurangi kesalahan diusahakan letak instrument ditengah-tengah antara titik A dan B. Selisih tinggi besarnya adalah:
ΔH      = BT Belakang – BT muka
Dimana,  BT belakang = Pembacaan benang tengah pada baak belakang
               BT muka       = Pembacaan benang tengah pada baak muka
Jika hasil positif maka kondisi permukaan tanah dari titik A ke titik B naik, sebaliknya bila ΔH negative maka titik A ke titik B turun. Pembacaan dilakukan melalui rambu-rambu ukur yang dapat dilihat dari teropong. Pembacaan terlihat dalam bidang diafragma yaitu benang atas (BA), benang tengah (BT) dan benang bawah (BB), dimana:
ΔH      = BT Belakang – BT muka
Serta jarak dapat diketahui yaitu :     D = (BA – BB) x 100




Angka yang tercantum menunjukkan jarak antara angka tersebut dengan alas mistar.


           Gb. 7. Waterpass dengan istrument tidak ditengah antara 2 titik

Cara lain untuk menentukan beda tinggi seperti terlihat pada Gb. 7 instrumen ditempatkan disebelah kanan titik B atau sebelah kiri titik A serta titik di A dan B atau sebelah kiri titik A serta tinggi titik di A dan B diketahui, selisih tinggi (ΔH) besarnya:         ΔH       = HA - HB
Dimana,  ΔH         = Selisih tinggi antara titik A dan B
               HA          = Tinggi titik A (pembacaan benang tengah di titik A)
               HB          = Tinggi titik B (pembacaan benang tengah di titik B)
Pembacaan pada rambu di titik B bisa dianggap pembacaan muka, sedang pada rambu di titik A adalah pembacaan belakang.

b.      Pengukuran tinggi dengan garis tinggi bidik
Apabila selisih tinggi (ΔH) telah diketahui, maka tinggi suatu titik dapat dicari bila tinggi titik lainnya diketahui.





GB.8. Mendapatkan tinggi titik pengukuran untuk B bila titik A telah diketahui tingginya Tinggi garis vizir/bidik (tgv) adalah:          Tgv =TP + TA
Dimana,  tgv   = Tinggi garis vizie
               TP   = Tinggi pesawat
               TA   = Tinggi titik A
Tinggi titik B dapat dicari yaitu                                             TB = tgv - BT
Pengukuran cara ini dipakai untuk pengukuran titik detail/kipas yang akan diuraikan kemudian. Cara lain untuk mencari vizir adalah      tgv = BT + TA

c.       Waterpass memanjang




Waterpass memanjang/berantai dimaksud untuk memperoleh suatu rangkaian / jaring-jaring pengukuran.

Gb. 9. Waterpass memanjang
Untuk menentukan tinggi antara titik A dan titik B dibagi dalam jarak-jarak yang lebih kecil. Jarak-jarak tersebut disebut 1 slag, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah diteliti.

                       ΔH1     = b1 – m1
                       ΔH2     = b2 – m2
                       ΔH3     = b3 – m3
                       H4    = b4 – m4
1nH    = (b1+b2+b3+………+bn) – (m1+m2+m3+………+mn)
1nH    = ∑1nb - ∑1nm
Dimana,   ∑ H = Jumlah beda tinggi
                ∑ b  = Jumlah pembacaan benang tengah belakang
                ∑ m = Jumlah pembacaan benang tengah muka
Untuk memberikan hasil yang teliti maka dilakukan pengukuran pergi dan pulang, dimana apabila hasil antara dua pengukuran mempunyai selisih terhadap hasil rata-rata antara dua pengukuran tersebut maka harganya harus memenuhi toleransi yang diisyaratkan. Toleransi tersebut dinyatakan dalam rumus:
E  = K x S
Dimana,   E     = nilai kesalahan
                K     = konstanta
                S      = Jarak
Tabel berikut adalah toleransi kesalahan pada berbagai tingkat pengukuran
Keterangan
Tingkat Pertama
Tingkat Kedua
Tingkat Ketiga
Catatan
Perbedaan dua pembacaan (Kedepan dan kebelakang)
2,5mm x S
5 mm x S
10 mm x S
S adalah jarak satu arah
Kesalahan penutup
2 mm x S
5 mm x S
10 mm x S
S dalam Km
Dalam praktikum ini tingkat pengukuran  waterpass dikategorikan pada  tingkat ketiga.

d.      Waterpass lapangan
Yang dimaksud dengan waterpass lapangan adalah untuk menentukan ketinggian dari titik-titik dilapangan sehingga mendapatkan gambaran lengkap tentang kedudukan tinggi dari wilayah dilapangan tersebut. Metode ini disebut metode koordinat kutub. Titik-titik dilapangan diukur sudut horizontal dan vertikanlnya serta jarak optisnya dengan menggunakan Theodolit. Dengan cara ini semua titik-titik dilapangan dapat ditentukan letak situasi maupun tingginya. Cara ini diuraikan lebih lanjut pada pengukuran detail.
Tabel perhitungan waterpass
No.
Titik
Panjang seksi (D) meter
Perbedaan Tinggi
Tinggi terhadap nol meter
Pergi (PG) meter
Pulang (PL) meter
Pukul rata
koreksi
A






76.28
2.036
-2.034
2.038
345.150
1



-0.002
347.186

84.90
-1.606
1.605
-1.606

2




345.500

92.8
1.900
-1.897
1.902

3



-0.002
347.480

72.66
2.039
-2.037
2.041

4



-0.002
349.519

∑ D = 326.64
∑ PG = 4.369
∑ PL = 4.363
∑ = 4.375

Selisih = 6 mm

Toleransi pengukuran untuk tingkat ketiga 10 mm x S = 10 x 0.326 = 5.7mm, pada perhitungan diatas selisih = 6 mm maka pengukuran harus diulangi karena kesalahan (selisih) lebih besar dari toleransi yang diisyaratkan.

e.       Pengukuran detail
Yang dimaksud dengan pengukuran detail atau pengukuran kipas adalah pengukuran sama benda-benda atau titik-titik dilapangan yang merupakan kelengkapan daripada sebagian permukaan bumi baik benda buatan seperti jalan, jembatan, bangunan, dsb ataupun benda alam seperti gunung, sungai dsb. Dari pengukuran ini kedudukan tinggi dari keadaan dilapangan dapat diketahui dapat digambarkan kembali dan akhirnya berwujud suatu peta.
1)      Metode pengukuran
Metode pengukuran ada 2 macam yaitu:
a.       Metode ekstrapolasi
b.      Metode interpolasi
Pada praktikum ini digunakan metode ekstrapolasi, dikenal ada 2 cara untuk menentukan titik detail yaitu dengan system koordinat orthogonal dan system koordnat kutub. System koordinat kutub adalah cara pengukuran yang cepat dan dapat mencakup daerah yang luas, alat yang dipakai adalah Theodolit.

 C














5













D


3

4





1
2



2


3

 1

2












3













4





4




6
A





B




5



1


5

Gb. 10. Denah Pengukuran detail/kipas
Titik-titik A, B, C, D ketinggiannya diketahui dari pengukuran waterpass memanjang seperti yang telah dijelaskan. Pengukuran ketinggian titik-titik 1, 2, 3, 4, 5, dst dapat dijangkau dari tiap-tiap kedudukan instrument yaitu dari titik-titik A, B, C, D, dst maka didapatkan kedudukan titik-titik detail/kipas tersebut.
2)      Pengukuran dengan jarak miring
Untuk mengetahui kedudukan titik detail tersebut maka dapat dilakukan dengan pengukuran jarak miring dimana diukur dengan sudut vertical, horizontal dan jarak optisnya. Selisih tinggi H dapat dihitung dengan rumus:
ΔH       = ((BA-BB) x 100xSin αV) ± (Tp-BT)
Dimana,   ΔH                  = selisih tinggi
                BA, BT, BB    = pembacaan baak
                αV                   = sudut vertikal
                Tp                    = tinggi pesawat




               
Gb. 11. Pengukuran jrak miring
Untuk mencari jarak D yaitu jarak datar antara titik tetap (A) dan titik detail (1) adalah sebagai berikut:   D = (BA-BB) x k x Cos αV
Dimana,   D                     = Jarak datar
                BA, BB           = Pembacaan baak/rambu
                k                      = Kontanta, diambil 100
                αV                   = Sudut vertical
·         Sudut Horizontal (αH)




Pengukuran sudut horizontal dimaksudkan untuk mengetahui arah dan kedudukan dari pada titik-titik detail terhadap tetap.

Gb. 12 Pengukuran sudut horizontal
Pembacaan dimulai dari titik A (instrument berdiri di titik tetap) dengan posisi pembacaan sudut horizontal 0o ke utara dan berakhir pada titik 5. Pada setiap arah sudut horizontal dibaca secara kumulatif, artinya besarnya sudut yang dicari adalah jumlah antara pembacaan titik yang diarah dengan titik yang diarah sebelumnya.
Perhitungan titik kipas/detail meliputi:
a.       Mencari selisih tinggi (ΔH) antara titik tetap dengan titik kipas/detail
b.      Mencari jarak antara titik kipas dengan titik detail
c.       Mencari tinggi titik kipas/detail

BAB II
PETUNJUK PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1.      Pengukuran dengan menggunakan Waterpass
à        Tujuannya untuk mengukur selisih tinggi (ΔH) antara dua titik yang telah ditentukan sehingga apabila ketinggian titik awal diketahui maka ketinggian titik-titik lain dapat diketahui/dicari.
à        Alat yang digunakan :
1.      Pesawat ukur waterpass
2.      Baak ukur 2 buah
3.      Statip
4.      Pegas ukur dan perlengkapan lain (unting-unting, dll)
à        Ketentuan teknis
1.      Jarak antara 2 titik mengikat asalkan tidak terpengaruh oleh hambatan-hambatan, misalnya: undulasi udara, fatamorgana, bangunan-banguan, dsb.
2.      Pada waktu pembacaan baak ukur tidak terdiri diatas patok melainkan berdiri diatas tanah.
3.      Ketinggian titik awal diketahui/telah ditentukan
4.      Harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a.       Garis vizir atau garis teropong harus // dengan garis arah nivo.
b.      Garis arah nivo harus tegak lurus dengan sumbu 1
c.       Benang saling horizontal harus tegak lurus sumbu 1
à        Langkah/tahapan praktikum
a.       Menyetel alat
·         Stabilkan kedudukan pesawat melalui setiap agar kedudukannya tidak bergerak.
·         Setimbangan nivo melalui sekrup penyetel (3 sekrup penyetel)
·         Putar pesawat 180o sehingga berbalik arah, chek apakah nivo masih dalam keadaan setimbang, jika masih setimbang maka garis bidik // garis arah nivo.
·         Chek sumbu 1 apakah tegak lurus garis bidik yaitu dengan cara mengatur unting-unting tepat diatas titik yang telah ditentukan sedemikian rupa hingga tidak merubah keseimbangan nivo.
b.      Pembacaan
Pengukuran Pergi



·         Pesawat diusahakan berdiri ditengah-tengah antara 2 titik yang telah ditentukan.
·         Lakukan pembacaan baak muka catat benang atas, benang tengah dan benang bawah, dimana:                  BT = ½ (BA + BB)
·         Lakukan seperti diatas untuk pembacaan baak belakang. Masukkan dalam formulir data yang ada.




Pengukuran Pulang

Gb. 2. Pembacaan Waterpass belakang

·         Baak tetap ditempat, geser kedudukan pesawat keatas atau kebawah namun alat masih tetap berdiri tadi antara 2 titik kemudian stel kembali seperti yang dijelaskan diatas.
·         Lakukan pembacaan baak belakang dan baak muka seperti tadi, catat dalam formulir data.
·         Setelah dilakukan pengukuran pasang patok pada tempat dimana baak ukur tadi berdiri atau ditentukan terlebih dahulu patok tersebut asalkan pada waktu pengukuran baak tidak berdiri diatas patok.
·         Setelah selesai pesawat dipindahkan.
Langkah diatas adalah pengukuran arah PERGI dan PULANG, cara pengukuran waterpass seperti ini biasanya disebut pengukuran waterpass pergi pulang atau lazim disebut double stand. Perlu diingat bahwa pembacaan baak muka atau belakang pada waktu pengukuran pergi pulang berlawanan tanda serta jarak pergi muka harus mendekati jarak pulang belakang dan sebaliknya jarak pergi belakang harus mendekati jarak pulang muka. Berikut ini adalah contoh pengisian data pada formulir.


FAKULTAS TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Halaman 1

Diukur oleh     : Budi Hendro Priyanto

Tempat            : UMS

Tp
No arah
Benang Tengah
Benang Atas
Benang bawah
Jarak
Beda Tinggi
Tinggi
Ket
Belakang
Muka
Belakang
Muka
Blkg
Muka
Blkg
Muka

BM
0.530
0.430
0.540
0.520
0.440
0.420







CP1
0.674
0.510
0.700
0.648
0.520
0.500







CP2
0.740
0.620
0.760
0.720
0.640
0.600







CP3
0.7
0.520
0.710
0.690
0.530
0.510







2.      Pengukuran Poligon
·         Tujuan : untuk mengetahui kedudukan suatu titik dan sudut arah dengan melakukan pengukuran sudut dan jarak dilapangan.
·         Alat yang digunakan :
1.      Pesawat Theodolit
2.      Pegas ukur/baak ukur
3.      Statip
4.      Yaloon
·         Ketentuan teknis
1.      Jarak tiap titik tidak terbatas kecuali apabila dipengaruhi oleh hambatan seperti : undulasi udara, fatamorgana dan bangunan-bangunan.
2.      Setiap pembacaan sudut harus selalu dikontrol, sudut yang dibaca adalah sudut luar.
3.      Setiap penyetelan alat harus memenuhi syarat garis vizir/garis bidik sumbu.
·         Langkah/tahapan Poligon
1.      Menyetel alat
a.       Dengan 3 sekrup penyetel aturlah nivo horizontal sehingga sumbu 2 horizontal, maka garis vizir akan // sumbu 2.
b.      Membuat sumbu 1 vertikal dengan meletakkan unting-unting tepat diatas patok/paku yang telah diberi tanda atau dengan melihat dengan teropong pembidik unting-unting.
c.       Komposisi kedua hal tersebut diatas menghasilan sumbu 2 tegak lurus dengan sumbu 1 dan ditunjukkan dengan setimbangnya nivo horizontal pada pesawat (nivo tabung).
d.      Apabila nivo horizontal tersebut belum setimbang maka kedua hal tersebut diulangi sampai mendapatkan hasil yang sempurna.
2.      Menentukan Azimuth awal dan sudut horizontal
a.       Klem horizontal dan bawah dilepas
b.      Buat pembacaan sudut horizontal dalam posisi 0o0’0” dengan cara memutar piringan hitam (lingkaran graduasi).
c.       Kemudian klem horizontal atas dikerasakan (dikunci)
d.      Dengan pertolongan sekrup penggerak halus sudut, buat posisi pembacaan sudut tepat 359o59’60” atau 0o0’0” dan arahkan ke utara dengan bantuan kompas.
e.       Kemudian klem bawah dikeraskan (dikunci) dan klem atas dilepas.
f.       Putar pesawat searah jarum mengarah ketitik CP1 secara kasar dan letakkan yaloon (patok) di titik CP1 tersebut (lihat gambar), klem atas dikeraskan.
g.      Dengan sekrup penggerak halus horizontal teropong akan bergerak mendekati yaloon dan akhirnya berimpit dengan benang silang. Hal ini terlihat pada bidang diafragma.
h.      Catat pembacaan sudutnya (azimuth awal)
i.        Untuk pembacaan sudut horizontal pesawat dengan posisi pembacaan 0o0’0” diarahkan putar searah jarum jam arahkan pada titik sesudahnya (titik sesudah tempat pesawat)
j.       




Catat pembacaan sudut horizontal.

Gb.3. Pembacaan azimuth awal dan sudut horizontal serta penempatannya
BAB III
PENGUKURAN KIPAS

Tujuan     :    Untuk mengukur semua titik-titik atau bangunan-bangunan di lapangan sehingga didapatkan kedudukan tingginya, pengukuran ini disebut juga pengukuran detail.
Alat yang digunakan:
1.      Bak ukur
2.      Pesawat theodolit
3.      Statip

Ketentuan teknik
a.       Jumlah titik kipas tidak terbatas, tergantung pada keadaan lapangan.
b.      Setiap pengukuran harus disertai sketsa dimana di dalamnya ditunjukkan mengenai kedudukan titik-titik dan bangunan yang diukur serta diberi nomor urut sesuai dengan arah saat pengukuran.
c.       Pada waktu pengukuran titik kipas dari suatu kedudukan titik harus overlap dengan pengukuran yang sama dari titik yang lain.
d.      Titik pesawat diukur dari permukaan tanah sampai garis bidik.

Langkah / tahapan Praktikum
a.       Menempatkan pesawat Theodolit diatas titik tetap kemudian distel alat seperti yang dijelaskan.
b.      Setelah itu mencatat tinggi pesawat.
c.       Menempatkan bak ukur pada tempat yang telah ditentukan, apabila permukaan tanah naik turun, maka bak ukur ditempatkan pada tempat yang mempunyai perbedaan tinggi.
d.      Membaca BA, BT, BB dan sudut horizontal, sudut vertikal kemudian dicatat pada formulir data.
e.       Membuat sketsa situasi dimana pengukuran kipas ini dilakukan.
f.       Khususnya bila dijumpai bangunan seperti jalan, jembatan, sungai, rumah, dan bangunan lain.
Tabel. Pengukuran kipas bila menjumpai bangunan
No
Nama Bangunan
Pengukuran kipas
Dilakukan pada
Sketsa
1.
Jalan beraspal
Kedua sisi tepi jalan diukur dengan pegas ukur




2.
Jalan tak beraspal
Tepi, tengah, tepi jalan, lebar, jalan diukur dengan pegas ukur




3.
Jembatan
Setiap sudut jembatan, tengah jembatan dan lebar jembatan diukur dengan pegas ukur.





4.
Sungai
Tebing atas kanan kiri, tebing bawah kanan kiri, dasar sungai




5.
Rumah
Setiap sudut bangunan rumah CP apabila terhalang minimal dua di sudut, yang lain diukur dengan pegas ukur

6.
Bangunan bangunan lain
Pada batas-batas bangunan tersebut masih dapat dijangkau atau dilihat dari pesawat

g.     




Pada pengukuran seperti pada f diatas, terutama pada bangunan jalan dan sungai pengukuran dilakukan dengan kerapatan yang memadai sehingga didapatkan arah jalan ataupun aliran sungai apabila digambar:


Gb. Pengukuran kipas pada sungai





Gb. Pengukuran kipas pada bangunan jalan

BAB IV
PENUTUP

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan  kehadirat Allah SWT yang telah  melimpahkan segala rahmat,  taufik serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Praktikum Ilmu Ukur  Tanah ini dengan baik. Semoga  Laporan ini dapat  bermanfaat bagi  pembaca dalam memahami mata kuliah  Ilmu Ukur Tanah.
Akhir kata, kami ucapkan  terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tela membantu  hingga tugas ini selesai.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Perhitungan Interval  BM

Tinggi Titik (TA) = -0.02 m
Skala                    = 1 : 250
Interval                 = 0.05

1. Jarak (D)                 = 22,5 m              0.9 cm
    Tinggi Titik             = -0.27 m


2. Jarak (D)                 = 44.5 m             17.8 cm
    Tinggi Titik             = -0.28 m


3. Jarak (D)                 = 47.5 m               19 cm
    Tinggi Titik             = -0.10 m


4. Jarak (D)                 = 57.5 m               23 cm
    Tinggi Titik             = 0.75 m


5. Jarak (D)                  = 27.5 m               11 cm
    Tinggi Titik             = 0.10 m


6. Jarak (D)                 = 38 m              15.2 cm
    Tinggi Titik             = 0.14 m


7. Jarak (D)                 = 38.5 m              15.4 cm
    Tinggi Titik             = 0.21 m


8. Jarak (D)                 = 41.25 m            16.4 cm
    Tinggi Titik             = 0.20 m


9. Jarak (D)                 = 47 m              18.8 cm
    Tinggi Titik             = 0.20 m


10. Jarak (D)               = 52.5 m              21 cm
      Tinggi Titik           = -0.10 m


11. Jarak (D)               = 45.5 m              18.2 cm
      Tinggi Titik           = -0.12 m


12. Jarak (D)               = 41.25 m            16.5 cm
      Tinggi Titik           = -0.14 m


13. Jarak (D)               = 29 m               11.6 cm
      Tinggi Titik           = 0.30 m


14. Jarak (D)               = 34.25 m            13.7 cm
      Tinggi Titik           = 0.94 m


15. Jarak (D)               = 46.75 m            18.7 cm
      Tinggi Titik           = 0.60 m